Senin, Februari 27, 2012

Memupuk padi dengan urine manusia dan susu


PURWOREJO - Kelompok tani tanaman pangan Ngudi Makmur Desa Bragolan, Kecamatan Purwodadi, Purworejo, memang unik sekaligus kreatif dalam membuat pupuk organik untuk memupuk tanaman padi mereka. Mereka memanfaatkan air seni (urine) mereka sendiri untuk diolah menjadi pupuk yang ramah lingkungan.
Pupuk organik yang bahan utamanya urine tersebut terbukti menyuburkan tanaman, sehingga menghasilkan produk padi yang lebih berkualitas dan berkuantitas. Menurut salah seorang pengurus kelompok tani Ngudi Makmur, Purwo Budiyanto (35), kemarin, pupuk organik ini merupakan komposisi dari berbagai bahan alami dengan proses pembuatan yang sangat mudah.
Bahan yang dibutuhkan hanya lima liter urine manusia, 600 gram susu putih cair kalengan, 250 gram kunyit, satu ikat daun orok-orok beserta akar, dan lima sendok teh micin (penyedap rasa untuk masakan-red).
"Cara pembuatannya sangat mudah. Kunyit diparut dan disaring untuk diambil airnya, sedang daun orok-orok beserta akarnya ditumbuk untuk diambil airnya. Air kunyit dan air daun orok-orok dicampur dengan urine, susu cair, dan micin.
Diaduk rata
Campuran bahan tersebut diaduk hingga rata, lalu direndam selama satu minggu. Selama perendaman harus ditutup rapat dan disimpan ditempat sejuk. Realisasi pupuk cair itu menjadi seberat 500 cc dengan warna hitam kecoklatan," jelasnya.
Sedangkan aplikasinya, kata Purwo, setiap 250 cc dicampur 14 liter air. Kemudian disemprotkan ke daun tanaman padi. Penyemprotan lebih efektif apabila diarahkan ke daun bukan ke tanahnya, karena memang sasaran pupuk ini untuk daunnya.
Penyemprotan dilakukan pada tanaman berusia 7.10 hari, dengan volume penyemprotan sebanyak empat kali. Jarak penyemprotan pertama dan seterusnya antara 5.7 hari. Penyemprotan juga boleh dilakukan selama malai padi belum keluar. Tetapi kalau tanaman padi sudah mulai berbuah, jangan melakukan penyemprotan. Sebab akan mengganggu proses pembuahan tanaman padi, akibatnya padi lebih mudah rontok.
Lebih bagus
Pupuk organik ini telah diterapkan pada lahan sawah seluas 2.000 meter persegi milik kelompok tani Ngudi Makmur di Desa Keduren, Kecamatan Purwodadi, Purworejo. Kebutuhan pupuknya 500 cc kali empat penyemprotan, sehingga totalnya 2.000 cc pupuk organik cair.
"Hasilnya sangat bagus dibanding tanaman di sebelahnya yang tidak menggunakan pupuk ini. Selain hasil tanamannya lebih bagus, dari segi biaya produksinya juga sangat hemat," katanya.
Menurut Purwo, kelebihan pada tanaman antara lain daun lebih hijau, pertumbuhan batang padi lebih panjang, malai lebih panjang, menambah peranakan padi, dan tanaman terlihat lebih kekar, serta padiya lebih banyak.
Bau yang ditimbulkan pupuk ini sangat menyengat, sehingga hama tidak mau mendekati tanaman. Kelompok tani Ngudi Makmur yang beranggotakan 36 orang itu, sengaja tidak merahasiakan cara pembuatan pupuk organik hasil ciptaan sendiri. Justru sebaliknya pembuatan pupuk ini agar bisa diketahui siapa saja yang membutuhkan.
"Kami mengutamakan sisi kesehatan yang dicanangkan pemerintah tentang go organik. Pembuatan pupuk organik ini tidak hanya untuk kelompok tani kami saja, tetapi untuk bisa diterapkan kepada petani lainnya." "Kami memiliki keyakinan alam adalah sahabat kita. Alam merupakan sahabat yang senantiasa mendukung manusia, tentu kita sebagai manusia harus bersahabat kembali dengan alam," katanya.
Untuk itulah, kelompok tani ini berupaya melestarikan lingkungan dan memanfaatkan potensi lingkungan yang ada. Dr/ad

Sumber : dari berbagai sumber..

4 komentar:

  1. wah bisa rasa susu yah enak tuh... tapi kalo rasa urine....

    BalasHapus
  2. Ha..ha..yang merasakan tanaman, mas.....kita tanya tanamannya ya..:)

    BalasHapus
  3. Mas Heri, saya pernah dikasih tahu teman, katanya akan lebih bagus lagi kalau menggunakan urine dari wanita hamil, mungkin perlu dicoba Mas, saya juga akan mencobanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Frista....termasuk dari sapi hamil juga bagus, kebetulan ada teman yang melakukan penelitian ini untuk tanaman cabai..

      Hapus